Studi terbaru melaporkan bahwa perempuan pasca menopause dengan keinginan seksual hipoaktif akan mengalami perbaikan fungsi seksualnya setelah diberikan testosteron transdermal.

Dr.Susan R.Davis dan kawan-kawan dari Monash University in Prahran, Australia, menyatakan bahwa masih banyak perempuan pasca menopause yang tetap aktif secara seksual, meskipun sering mengalami kekecewaan seksual, atau melakukan aktivitas seksual hanya untuk memuaskan pasangannya, atau untuk mempertahankan keharmonisan rumahtangga.

Meskipun testosteron dibuktikan efektif untuk meningkatkan libido pada perempuan pasca menopause yang sedang mendapat terapi sulih hormon, namun khasiatnya pada perempuan yang tidak mendapat estrogen tidaklah diketahui.
Ada kekhawatiran bahwa testosteron eksogen yang diberikan secara tunggal dapat menghasilkan efek merugikan terhadap kadar lipid, metabolisme glukosa, atau menyebabkan kelainan pada payudara.

Studi APHRODITE (A Phase III Research Study of Female Sexual Dysfunction in Women on Testosterone Patch without Estrogen) yang dilakukan di 65 senter di Australia, Eropa, dan Amerika Utara, meneliti perempuan pasca menoause yang melaporkan mengalami penurunan libido yang dikarenakan personal distress.

Studi tersamar ganda dengan randomisasi ini mencakup 267 perempuan yang diobati dengan testosteron transdermal dengan dosis 150 Ug/hari, sedangkan 267 subyek diobati dengan testosteron 300 Ug/hari, dan 277 subyek lainnya mendapat plasebo. Patch ditempelkan pada bagian abdomen mereka sebanyak dua kali seminggu.

Pada minggu ke-24, peningkatan tingkat kepuasan seksual secara bermakna lebih besar pada kelompok testosteron dengan dosis 300 Ug/hari dibanding kelompok plasebo (2,1 kali vs. 0,7 kali, p<0,0001)),>

Kedua kelompok testosteron tersebut secara bermakna mengalami peningkatan skor kepuasan seksual dan penurunan personal distress. Meskipun peningkatan frekuensi kepuasan hubungan seksual tersebut bersifat sedang, tetapi tampaknya berarti secara klinik.

Efek androgenik yang paling nyata adalah bertambahnya pertumbuhan rambut pada kelompok yang mendapat dosis tinggi. Efek samping androgenik lain seperti akne, alopesia, suara menjadi berat, tidak menunjukkan perbedaan di antara kelompok-kelompok tersebut. Tidak ada perubahan secara klinis relevan pada kelompok manapun yang berhubungan dengan kadar lipid srum, metabolisme karbohidrat, maupun fungsi hati.

Yang cukup mengkhawatirkan adalah ditemukannya diagnosis kanker payudara pada 4 subyek pada kelompok testosteron. Satu subyek menunjukkan sekret berdarah pada payudaranya dan satu lagi didiagnosis setelah 4 bulan pengobatan, sedangkan dua kasus lainnya didiagnosis setelah 52 minggu dan 104 minggu pengobatan.

Para peneliti menyatakan diperlukan tambahan data untuk memastikan keamanan penggunaan testosteron jangka panjang pada perempuan dengan deplesi estrogen.

Sumber: New England Journal of Medicine 2008; 359: 2005-2017

sumber : http://ratnarespati.com/2009/02/02/patch-testosteron-meningkatkan-libido-pada-wanita-pasca-menopause/